PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia


Perlu dipahami kembali butir-butir "Thagut" diatas, supaya yang merasa anti dengan adat dan budaya sendiri kembali sadar di mana bumi dipijak

Get this widget [ Here ]

Rabu, 24 Maret 2010

PATUNG ITU FOTO LELUHUR

  


Suatu kejadian peristiwa yang terjadi di Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit yang akhirnya dikenal sebagai kawitan Pusat leluhur Majapahit yang adat dan budayanya lestari di Bali  (BIARPUN DIKLAIM HINDU YANG MUNCUL DAN BARU DI SAHKAN TAHUN 1961 ini terbukti didalam lontar-lontar  serta kitab-kitab masa Majapahit dan sebelumnya tidak ditemukannya istilah Hindu ataupun yang berbau Hindu India)  jadi oleh para sentananya baik yang masih memegang adat dan budaya leluhur sesuai dengan bunyi lontar "SIRA MPU KUTURAN INGARAN MPU RAJAKRETHA MAHYUNTA ANGGAWE PARAHYANGAN SANE KAGAWA WIT MAJAPAHIT KAUNGGAHAN RING BALI KABEH" Jadi untuk adat Majapahit dan pemahaman tentang adat dan budaya Majapahit bisa dilihat di Bali  prakteknya dan masyarakat Jawa yang keJawan atau Kejawen yang melaksanakan adat-adat dan mempraktekan budaya Majapahit (didalam kitab Negarakertagama belum dikenal istilah Hindu  yang baru diberi label/titel agama pada tahun 1961 tapi Majapahit Kasyaiwan dan Kasogatan atau dikenal Siwa Buda ritual keleluhur) tetapi untuk lebih mendetail penjelasan dari PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT TROWULAN di Pura Majapahit Trowulan utara Kolam segaran Jl. Brawijaya Dara Jingga 13-16 tembus Sabda Palon no 06 yang memberikan kasunyatan pada kawula diseluruh Nusantara terutama kawula di Trowulan, bahwa PURA MAJAPAHIT TROWULAN itu melestarikan adat dan budaya leluhur Majapahit bukan agama yang dimport semua. Bahkan untuk di Trowulan sebagian besar masyarakatnya tidak mengerti dan menghargai adat dan budaya leluhur Majapahit. Seperti kasus di desa Temon hanya karena provokasi sang ketua yang mengerti adat dan budaya akhirnya membawa massa menjadi bodoh (Jahilliyah) dan masyarakat Trowulan tidak mengerti dengan filosofi budaya leluhur bahkan PURA MAJAPAHIT TROWULAN di larang berkegiatan dan ritual dalam bentuk apapun berdasarkan SKB dan perda kabupaten  Mojokerto tanpa alasan yang jelas dan tidak berdasar aneh tapi nyata.


Ketakutan para Dajjal kembalinya jati diri bangsa Nusantara. Untuk itu sentana (keturunan Majapahit di Trowulan), ingin memberikan penjelasan tentang ini dan siap untuk membuka mata hati dan mata batin bagi yang tidak kenal budaya Majapahit (Kejawen) dan kawula di Trowulan yang ingin tahu tentang adat dan budaya Majapahit.



Adalah Raden Hari Susanto, Raden Rahmat Arif Safi`i (Arik), Raden Khusaini, Raden Jawahir  (Ketju) , Raden Ayu Siti (Nyonya Ghofir), RM.Atarif (Umbar) yang sangat getol ingin memberikan pengetahuan ini supaya sebagian masyarakat Trowulan dan sekitarnya paham dan mengerti budaya dan filosofinya di Pura Majapahit Pusat Trowulan supaya tidak antipati dengan budayanya sendiri yang bukan import sehingga paham budaya sendiri dan tidak "ngepruki" peninggalan leluhurnya



  1. PATUNG ITU FOTO LELUHUR, pada masa Majapahit dahulu foto itu belum ada. Mr. Kodak belum lahir mister Handycam belum muncul. Jadi untuk mengabadikan leluhur maka dibuatlah foto yang terbuat dari batu yang dipahat berbentuk manusia yang disebut patung, juga dari tanah liat dan keramik yang cara pembuatan ilmunya dari Cina karena memang leluhur Majapahit itu memang manusia dan ini terbukti masyarakat Trowulan pada umumnya adalah pematung yang handal. Dan bukti lagi untuk sebagian orang Islam di Trowulan sangat tidak tahu dengan Patung atau Arca yang dipakai sentana (keturunan Majapahit) adalah Pratima atau patung peninggalan leluhur, bahkan ada yang menganggap patung itu berhala atau musyrik, padahal patung itu adalah foto leluhur pada jaman itu karena foto belum ditemukan.


  2. Sebenarnya tidak ada pebedaan antara Islam yang dianut sebagian masyarakat di Trowulan dengan adat budaya Majapahit (Kejawen). Kalau orang Islam di Trowulan meninggal otomatis dibuatkan makam dan diberi tanda berupa batu nisan (maesan atau patok kuburan), dan setiap hari jum`at legi disekar dengan kembang yang di adat Arab memang tidak mengenal budaya "nyekar". Jadi budaya nyekar adalah budaya asli Majapahit seperti yang dilakukan oleh Nurhidayati cucunya Mbah Ali yang berbakti pada leluhurnya pada setiap Jum`at legi  selalu nyekar ke makam leluhurnya dan  ke makam Troloyo, juga semua memakai budaya Kejawen. Makanya apabila ada orang Islam yang nyekar kekuburan disebut Islam Majapahit atau Islam kejawen maksudnya adalah orang Islam yang masih memakai adat Majapahit atau Kejawen adat asli yang tidak diimport, kenapa anti dengan Majapahit atau Pura Majapahit pimpinan Hyang Suryo seperti Karyono CS ?????. Juga adat lainnya seperti Tingkepan, bayi mudun lemah, ruwatan, metik pari nang sawah karena memakai cok bakal dan lain-lain yang dulu masih banyak disaksikan sekarang hampir atau sudah musnah karena sudah berganti dengan adat Arab yang tidak kenal Tingkepan, nyekar dan cok bakal serta lainnya. Itulah pemahaman ajaran Arab memberangus adat kejawen padahal sebagian masyrakat Trowulan masih memakai adat tersebut, ini realita nyata dan kasunyatan.


  3. Dan apabila untuk keturunan Majapahit leluhurnya meninggal itu dibakar atau diaben atau dikremasi atau dimokswakan akhirnya abunya dilarung ke Luat atau ke Sungai dan rohnya dibuatkan Kuburan atau rumah yang disebut Candi dan diberi "tetenger" atau tanda berupa patung atau foto yang juga direliefkan (hiasan dinding Candi). Jadi Candi adalah minangka tempat  atau makam leluhur yang pada hari Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, nyekar leluhurnya adalah ke Candi .Contoh  Pura Majapahit Trowulan adalah tempat leluhur Majapahit di Candikan jadi tidak ada hubungannya dengan agama.

Inilah sedikit penjelasan dari kami tentang Pura Majapahit Trowulan dan kegiatannya tidak ada yang dirahasiakan. Untuk dipahami bagi yang tidak mengenal budaya Majapahit dan dilestarikan untuk generasi Nusantara sebagai jati diri bangsa terlihat dari luhurnya "tingginya" budaya bangsa itu sendiri. (R.Sisworo Gautama)


    read more...

    Selasa, 09 Februari 2010

    RAJA MAJAPAHIT HIDUP 4 GENERASI

    Malam itu tidaklah begitu dingin (Soma Paing Kulawu 8-02-2010), udara berhembus sepoi-sepoi menerpa wajah seakan-akan membelai menina-bobokan yang masih sadar dengan keadaan, angin itu juga ingin menyampaikan satu informasi yang aneh namun sungguh nyata. Di Pura Ibu Majapahit setelah tiga hari  kedatangan Guruh Sukarno Putra, calon pemimpin Negeri masa depan yang berideologi Pancasila adalah bungsu salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia yakni Bung Karno yang berjuang bersama Pahlawan lainnya untuk mengangkat martabat bangsa ini hingga mempunyai jati-diri yang sekarang sudah mulai musnah karena pemaksaan isme yang diimport dan pemonopolian agama yang berkuasa memberi "cap" lainnya kafir dan sesat serta memberi julukan kaum musyrikin untuk mengimbangi kaum muslimin sesuai hukum alam. Hingga detik ini mereka masih memberi "titel sampul D" contohnya di daerah Blitar sendiri, tempat kelahiran Bung Karno banyak masyarakat dulu ditumpas karena tidak ke Mesjid  dan  tidak memeluk Islam dengan tuduhan Komunis atau PKI. (1965-1966 berlanjut hingga detik ini). Inilah sejarah kelam bangsa ini yang di Arabisasi dengan isme Islamnya. dan ini terbukti adat-adat dan budaya Nusantara yang berbau animisme dan dinamisme serta multiisme ditumpas karena untuk menguasai Negeri yang subur makmur. Dan sekarang para penumpas disebut Pahlawan Alloh.





    Mata sudah mulai mengantuk, di Pendopo Puro / Keraton Ibu Mojopahit terlihat beberapa orang yang sibuk bercengkrama sambil berjaga (mekemit) yang memang menjadi tugasnya sebagai "Prajurit Keraton" serta "Abdi Dalem Keraton". Terdengar nyanyian alam berpadu dengan suara merdunya mahkluk Tuhan bernama Putih, Blontang, Iyeng dan lainnya yang mengonggong menemani para penjaga menunjukkan hubungan tanpa batas antar sesama mahkluk hidup.



    Tiba-tiba dari arah pintu gerbang Ganesha terdengar sapa seseorang dengan salam yang aneh tapi sudah biasa didengar "OM SWASTYASTU". Para penjaga menjawab salam tersebut dan mempersilahkan masuk tamu yang berjumlah dua orang yang masih muda berusia sekitar 30-an tahun . Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya kedua orang itu duduk bersila didepan Candi Ibu Majapahit. Dengan dupa yang baru dinyalakan berdo`alah mereka dihadapan leluhur Majapahit. Entah berapa lama akhirnya selesailah ritual yang dijalaninya yakni menghaturkan bakti dihadapan leluhur. Selanjutnya terlihat mereka melangkah di depan Pagoda atau meru dan melakukan ritual yang sama hingga berakhir serta melanjutkan ke bawah Klenteng atau Gedong Pratima di mana Pusaka-pusaka Majapahit "dijejerkan".



    Setelah beberapa lama, akhirnya mereka kembali ke Pendopo dan menemui seseorang sekaligus bertanya," Kami mohon untuk "dilukat", kata mereka hampir berbarengan. Terdengar sahutan dari bibir seorang  laki-laki yang berambut gondrong, gimbal dan  berbadan kurus," Wah tiyang niki bukan orang yang bisa membersihkan diri seseorang, namun hanya membantu dan belajar melayani, seharusnya Anda sendirilah yang berinisiatif untuk melukat segala kekotoran diri", ujarnya sambil semyum simpul ramah. Dan tanpa banyak kata diambillah tirta ditempatkan dalam sangku dan dicampur kembang untuk prosesi acara mandi kembang. Terlihat kedua orang itu mengigil kedinginan dan merinding seperti merasakan sesuatu tatkala mantra terucap dari bibir yang sering dipanggil Panditha (mangku) tanpa diimpikan katanya, karena ini murni keinginan umat yang meresmikan menjadi Panditha. Apalagi orang tersebut mengaku tidak tahu apa-apa tapi sangat toleran dalam berkepribadian.



    "Bolehkah saya bertanya", kata anak muda itu yang agak berkulit kuning langsat dengan ramahnya menandakan punya tata kerama yang lumayan, kontras dengan temannya yang berkulit gelap agak sedikit "slengekan".



    Pemangku itu menjawab, "Silahkan !".

    "Apakah orang dalam foto yang memegang keris Nogo Sosro itu adalah Hyang Suryo Wilatikta", begitu tanya anak muda itu langsung untuk mencari tahu dari rasa penasarannya.

    Dengan sedikit menerapkan penerawangannya si Pemangku mengeryitkan dahinya untuk menganalisa keadaan yang sudah diprediksinya sekaligus mengantisipasi untuk apa orang ini bertanya seperti itu, karena seorang Ratu Satriyo Paningit itu tidak sembarang orang tahu. Karena Raja Majapahit Masa Kini ini sungguh sangat aneh, merakyat dan "TER", yakni TER Besar dan TER kecil.



    "Dalam foto itu di samping yang memegang keris Nogo Sosro memakai udeng merah adalah "Kompyang atau buyut"  saya", katanya lagi sambil berapi-api dan ingin jawaban yang pasti.



    Si Pemangku balik bertanya biarpun sudah tahu akan tamunya ini," Siapa nama Andika ini !".


    "Pekenalkan nama titiyang I Gusti Ngurah Agung Juliartawan saking Puri Anyar Tegal Badung Denpasar", jawabnya sambil memjabat seakan memohon untuk mendapat jawaban yang pasti.



    "Mungkin Andika salah orang", jawab sipemangku dengan cepat. "Tidak salah titiyang pernah melihat Beliau sewaktu masih kecil, wajahnya masih sama dan beliau dulu mengendarai mobil pickup", cerocosnya untuk dapatkan kepastian.



    Akhirnya karena ilmiahnya memang benar dan anak ini tidak membahayakan menurutnya maka si Pemangku inipun berkata,"Benar, itulah Hyang Brahmaraja XI Beliau sekarang sesuai tata-titi tata kerama seharusnya di panggil Hyang Wilatikta Brahmaraja XI bukan Hyang Suryo lagi. Saya ilmiahkan begini, nama kecil biasa dipanggil, tetapi aturan setelah di Abhiseka lain cara memanggilnya sesuai adat Majapahit yang adi luhung pada umumnya sudah banyak ditinggalkan karena sudah mengenal langsung Tuhan", jawabnya dengan sambil terus memandang mata anak muda itu seakan membaca pikirannya.



    Akhirnya Mas Ngurah Agung bercerita panjang lebar tentang kompangnya yang juga kakek buyutnya. "Titiyang niki kan punya Haji atau Aji atau Bapak, nah Aji tiyang niki punya Aji yang disebut Kakek atau Pekak, Kakek niki punya Aji dan beliau sudah "meraga sukma" dan sampun dilinggihkan. Nah ini buyut tyang yang berfoto dengan Hyang Brahmaraja disebelah kanan Beliau", katanya memastikan.



    Akhirnya terjawab sudah pertanyaan selama ini bahwa Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini hidup dalam empat generasi. Mengapa beliau berusia panjang dan sehat ?. Karena mengikuti Hukum Tuhan, Hormatilah kedua orang tuamu dan leluhurmu supaya diberi usia yang panjang dan sehat. Ini adalah Hukum Tuhan dalam "Tens Comandemen of God" yang diajarkan Musa AS dalam perjalanan Hidupnya. dan sebagian besar penduduk Cina dengan leluhurnya.



    Pagi harinya setelah dikonfirmasi sama Hyang Brahmaraja XI memang benar adnya itu orang bernama Anak Agung Ngurah Sodara dan Beliau juga yang menyelamatkannya dari kudeta saudaranya sampai berdirinya Pura Majapahit Tegal yang pernah dicemarkan namanya oleh AA Manik Danendra S.H dalam berita di Bali Post 7-01-2010 yang sangat memalukan keluarga Puri Tegal dan Puri Anyar. Makanya si Ngurah Agung ini lama tidak pernah tangkil atau sowan ke Pura Tegal, dan Ngurah ini juga bercerita PELINGGIH yang terbakar dan pas odalan Banten diorat-arit sebelum dipuput, dan mungkin diselamatkan oleh leluhurnya supaya tidak terkontaminasi racun dari Manik Danendra ini yang mengaku Raja Pura Gunung Srawet Banyuwangi dengan menyingkirkan tuan rumahnya sekaligus menerapkan Adigang, Adigung lan Adiguna (baca beritanya disini)
    read more...

    Senin, 18 Januari 2010

    INDONESIA RAYA 3 STANSA

    Oleh W.R Soepratman

    Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti,
    di sanalah aku berdiri njaga ibu sejati,
    Indonesia tanah berseri, tanah yang yang aku sayangi,
    marilah kita berjanji, Indonesia abadi,
    slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya,
    lautnya, semuanya,
    majulah negerinya, majulah pandunya,
    untuk Indonesia Raya,

    Indonesia tanah yang mulia,
    tanah kita yang kaya,
    di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya,
    Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya,
    marilah kita mendoa, Indonesia bahagia,
    suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya,
    rakyatnya semuanya,
    sadarlah hatinya, sadarlah budinya
    untuk Indonesia Raya

    Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku,
    di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
    Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku,
    marilah kita berseru Indonesia bersatu,
    hiduplah tanahku, hiduplah negeriku,
    bangsaku, rakyatku semuanya,
    bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,
    untuk Indonesia Raya

    Ref,
    Indonesia Raya, merdeka, merdeka,
    tanahku negeriku yang kucinta,
    Indonesia Raya, merdeka, merdeka,
    hiduplah Indonesia Raya
    read more...

    Minggu, 03 Januari 2010

    PURA/KERATON IBU KAWITAN MAJAPAHIT

    Bila ingin mengetahui sejarah dan perkembangan Pura Ibu Majapahit ada baiknya mengetahui lebih mendetail yang akan tertuang dalam tatanan dan fungsi dari;

    • Bangunan Palinggih untuk yang menjaga Pura/Keraton sekaligus tempat ber-Stana Dang Hyang Penjaga Nusantara berada di bawah pohon asam/punyan celagi. Disinilah yang pertama kalinya pemedek/umat meminta ijin masuk secara Sekala-Niskala untuk dapat mulai memasuki Pura/Keraton Ibu Majapahit.


    • Setelah itu memasuki Pintu Gerbang yang bernama Candi Wijaya Kusuma disambut oleh Arca Ganesha yang beratnya melebihi ukurannya dan setelah ketemu Simbol Surya Majapahit ada tempat Tirta penglukatan awal/ Pembersihan diri bilamana diluar mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Nah dengan Tirta ini diharapkan diri menjadi bersih dari hal-hal yang tidak bagus.

    • Setelah berjalan beberapa langkah, terlihatlah Candi Siwa menjulang tinggi ke angkasa dan didepan Candi Ada tempat Tirta pembasuh dan disambut oleh Patih Gajah Mada yang masih muda menghunus keris memberikan semangat untuk generasi muda supaya mendapatkan kembali jiwa nasionalismenya dengan sebutan Bhayangkara Mada diatas prasasti KEBANGKITAN SIWA BUDHA yang ditanda-tangani oleh Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini dan Raja Majapahit Bali Masa Kini atau Sentana Anglurah Bali (cocok untuk berdo`a tokoh muda pejuang Negara dan yang ingin bersemangat melanjutkan hidup serta kehidupan).

    • Didepan Candi Siwa Inilah semua persembahan seperti banten dan Pejati dihaturkan kepada beliau. Didepan Candi Siwa ini Anda-Anda semua boleh menumpahkan uneg-uneg, meluapkan emosi kerauhan dan mengharapkan beliau tedun untuk mebaos atau memberi petunjuk dan berdo`a memohon kerahayuan. Setelah uneg-uneg dalam diri kosong, jiwa sudah tenang barulah kaki menapak memasuki Candi Budha atau memasuki Klenteng/Gedong Pratima/Gedong Kimsin yang berstana Ratu Majapahit Nusantara, dengan catatan mematuhi Peraturan yang terpampang di depan tangga sebelah kanan.

    • Gedong Pratima/Klenteng ini satu-satunya yang bisa dimasuki hanya untuk berdoa dan menancapkan hio/dupa dengan persembahan yang tidak mengandung nyawa atau vegetarian. Jadi didalam Gedong ini atau Klenteng hanya untuk berdo`a sampai jam 22.00 WITA (10 MALAM) kecuali Purnama dan Tilem serta Hari besar lainnya setelah itu Anda dipersilahkan turun. Filosofinya Anda akan mendapatkan pengetahuan berisi adalah kosong, Kosong adalah berisi. Jadi memasuki Klenteng kosongkan pemikiran Anda, Kosongkan supaya terisi nantinya. Untuk meditasi dan lain sebagainya silahkan dibawah ada tempat yang tersedia. Naik melalui tangga ibarat menjalani kebaikan perlu naik ketingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Turun disarankan ambillah tangga yang berbeda. Dibawah Klenteng terdapat Ruangan untuk menyimpan pusaka Majapahit atau museum dan untuk umum serta masuk Gratis lagi

    • Di Sebelah Gedong Pratima terdapat Bangunan Pelinggih menjulang tinggi dan tertinggi satu-satunya di Nusantara dan yang masih bisa diupacarai bernama Meru Tumpang sebelas atau Pagoda. Bangunan ini pernah diutarakan oleh Raja Banten melalui telepon supaya jangan sembarangan dimasuki. Padahal sang Raja ini belum tahu langsung atau datang ke Bali. Disini disimbolkan Pagoda diangkat oleh Kura-Kura, juga terdapat berstananya Dewa Bumi. Banyak filosofi yang bisa diambil berdo`a dan berfilosofi cerdas untuk mengejar ketinggalan Globalisasi.

    • Disebelah Pagoda terdapat bangunan segi delapan bernama Candi Avalokitesvara dan disebelah Candi Ciwa (Candi Majapahit) terdapat Candi Ibu Gayatri yang dalam kitab Negara Kerthagama baru sedang dibangun. Dan Candi Gayatri terdapat didaerah Tulung-Agung Jawa Timur masuk kawasan Keraton Majapahit Jenggala, tetapi keadaannya sudah parah dirusak oleh Santri Demak pimpinan R.Patah dan Sunan-sunan. Sehingga Candi ini di Pindahkan ke dalam Keraton Ibu Majapahit Bali.

    • Bangunan berbentuk Pendopo ini dalam bahasa Nagarinya disebut AN tempat berkumpulnya para ksatrya Majapahit disamping itu juga nyejerang Pusaka-Pusaka Majapahit. Disini aktivitas sangat ramai, ada yang berkonsultasi masalah sepritual, bisnis, meditasi, ramal-meramal, ruwatan, semua aktivitas tanpa batas disini. Juga terdapat Tempat menginap orang-orang suci atau tamu Agung bernama KWAN dibelakang Pagoda atau meru tumpang sebelas. Dan Pusat Informasi (TING) tentang perjuangan dari Hyang Batara Agung Sri Wilatikta Brahmaraja XI, Narendra Utama berjuang untuk Nusantara. Ada juga bale gong dan Kulkul. Ini adalah kebanggaan dan ciri khas Majapahit, Kawula semuanya terangkat harkat dan martabat serta punya jadi diri sebagai bangsa. Dan semua umat tanpa melihat SARA berhak datang dan berdo`a di kawitan Nusantara. Didepan leluhur semua sama tanpa melihat status (kasta) dan wangsa (keturunan) dan agamanya yang masih import semua serta.berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Atau disebut PURA PANCASILA. Inilah Gambaran Candi Siwa Budha Majapahit pemersatu. Untuk Kawitan Purusha Jawa Bali Stananya Prabu Airlangga (Raka Halu Sri Lokesvara Darmawangsa Airlangga Nanta Wikrama Tungga Dewa) terdapat di PURA MAJAPAHIT GWK masuk desa Ungasan (+/- 2 km dari Pura Ibu Majapahit) wilayah Kuta Selatan Kabupaten Badung Propinsi Bali.

    • Pintu Gerbang Ganesha adalah untuk mendapatkan kepandaian. Jadi tidak lagi “di Sirna Ilangkan di Kertaning Bumi”. Selanjutnya ada juga bangunan khusus membuang penyakit.


    • Itulah sedikit gambaran tentang Keraton Ibu Majapahit dan perkembangannya diabad-21 MASA KINI
    read more...