Post under
Situs
di
03.12
Diposting oleh
News abad-21
Peninggalan Leluhur masa Majapahit situs Watu Kucur.
Perjalanan di hari Raya Galungan ( 12 Mei 2010, Buda Kliwon Dunggulan atau hari Rabu Kliwon wuku Galungan karena arti Dunggulan adalah Galungan ) yang dulu dirayakan oleh orang Jawa dan yang masih mengerti adat Jawa seperti brokohan, tumpengan untuk mengawali menanam padi disawah dan lain-lain yang pada masa Majapahit sangat lestari hingga membuat Nusantara mengalami masa kejayaan karena sangat mencintai tanah air serta menerapkan adat dan budayanya abad pertama hingga abad-15 sebelum masuknya Islam di Nusantara
Tetapi itu semua berbalik dimasa sekarang (abad-21) orang sudah tidak mengenal adat istiadat khususnya generasi muda sekarang terutama santri yang anti dengan adat dan budaya sendiri, setelah masuknya Islam Arab yang membawa rohmatan lill `alaminkatanya tapi bukan untuk melestarikan peninggalan leluhur justru mereka (para santri dan tokoh Islam Arab garis keras) malah menghancurkan dengan alasan musyrik, berhala dan lain sebagainya. Hingga generasi sekarang mulai tidak mengerti dan acuh untung ada yang masih tidak antipati seperti yang dituturkan oleh Pak Kastar dari desa Beloh Kecamatan Trowulan dulu terkenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit sekarang masuk Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur Indonesia, Bahwa dulu di desa Kumitir sekitar 200 meter dari Rumah Pak Kastar yang memang ada diperbatasan desa pernah terjadi penghancuran punden-punden serta Candi-candi peninggalan leluhur. Hingga bangsa dan negara ini beruntun mendapatkan bencana baik yang aneh dan super aneh kejadian-kejadian alam, meteor jatuh, menanam padi di makan wereng, bom gas elpiji serta banjir terus bertubi-tubi, tanah marah menjadi longsor, kecelakaan di mana-mana sesuai ramalan Hyang Batara Sabda Palon Naya Genggong sebagai Dang Hyang Tanah Jawa sejak Majapahit dihancurkan Islam Demak dengan bantuan Wali Songo dan Habib-Habib Arab terbukti sekarang betapa arogannya mereka setiap menumpas adat dan budaya yang tidak sama dengan Islam Arab dengan alasan memberantas kekufuran, Nahi Mungkar katanya tapi prakteknya sangat melanggar HAM. yang cuma ada di pusat kantornya. HAM hanya yang ikut Arab.
“Itu lokasi pundennya, dinamakan sekarang adalah ‘watu kucur’ dihancurkan dan dibuang ke sungai oleh gerombolan GP Anshor dan sebangsa Banser yang entah darimana, tiba-tiba merusak punden (Tempat Leluhur atau mbah Danyang ini)”,sambil ngos-ngosan diusianya yang sudah sepuh untuk menceritakan pada wartawan Majalah Independen Majapahit Raden Sisworo Gautama dan temannya yang berpenampilan nyentrik dan berwibawa hingga warga setempat sangat menghormatinya.
“Niki lo mas wartawan, pundennya dan watu kucurnya dicemplungkan kesini (sungai) oleh sebangsa Anshor-anshor itu pada peristiwa Gestapu atau Gestok persis 30 September 1965”, katanya lagi setelah sampai dilokasi Candi atau punden dahulunya dengan memakai celana pendek yang ngetrend yakni celana kakek-kakek.
“Pak Kastar, kenapa dirusak dan watu kucurnya dibuang kesungai ?”, tanya Kami dengan raut muka serius sambil melihat sungai disebelahnya. “Lha niku lo mas, katanya orang Jowo mujo braholo, watu kucur musyrik tempat kapir dan tidak percaya mriki (sini) anggapan dari gerombolan Anshor, katanya sambil prihatin seakan-akan menyesalkan tindakan brutal tersebut sambil menerawang menyaksikan peristiwa carut –marutnya negeri ini yang juga melestarikan adat kebrutalan diimpor masa Arab jahilliyah yang disaksikan di Televisi walaupun matanya sedikit kabur karena dimakan usianya yang ke-68 tahun. Hingga ada yang mimpi untuk mengembalikan “Batu itu” pada tempatnya semula. Setelah dikembalikan bahkan ada yang jahil dan dicurilah batu tersebut karena mempunyai nilai jual yang tinggi, berukir indah seperti berita pelelangan harta kuno peninggalan kerajaan Cirebon baru-baru ini dan oleh sipencuri diganti baru tapi setelah mencuri orang itu tewas beberapa saat kemudian yang tidak disebutkan namanya karena Pak Kastar lupa.
Dengan panjang lebar bercerita dan tertatih-tatih Pak Kastar yang lahir pada tahun 1942 berjalan di pematang perkebunan tebu yang dikelola oleh “Ganjaran Mataulu” yang sekarang dikenal dengan istilah pengairan tapi tidak anti dengan tempat tersebut bahkan menanami beringin dan pohon lainnya serta membuatkan pondasi pagar sebagai ‘tetenger’ biar tidak hilang biarpun pagarnya belum ada, karena minimnya perhatian pemerintah tentang cagar budaya peninggalan leluhur Majapahit karena pemerintahannya sudah ikut Arab lebih baik memperhatikan yang mau berangkat setor uang ke Arab (ONH) juga rakyatnya yang memang bodoh dan dibodohkan supaya tidak mengenal adat dan budaya bangsa sendiri, biar mudah dijajah baik keyakinan maupun hasil Tanah Air dan dijadikan bangsa budak dengan terus mengirimkan TKI dan TKW ke Arab karena sudah diarabisasi yang tidak mau masuk Islam dicap PKI, Komunis, kafirun, musyrik, biarpun masih ada yang percaya dengan adat Jawa tapi melaksanakan dengan rasa ketakutan seperti bila ada orang punya hajat atau punya pekerjaan besar di desa seperti kemantenan (menikahkan anaknya) dan lain-lain maka dilakukan pertama kali ditempat ini (watu kucur) biarpun di KTP nya Islam tapi mereka hanya Islam KTP saja (karena ketakutan dan memang begitu ikut-ikutan saja) tetapi prakteknya tetap memohon restu ke Leluhur (Mbah buyut, Canggah, wareng serta mbah Danyang). “Sebagian saja Mas yang percaya karena memang disana ada legendanya tapi juga ada yang tidak percaya karena takut dikafirkan”, kata Pak Nawawi dari desa Kumitir tetangga desa Beloh lahir tahun 1945 yang mempunyai pengalaman dan menyaksikan hancurnya Punden atau Candi yang hanya menyisakan separuh Arca dinamakan Joko Slening di desa Kumitir, memperkuat pernyataan Pak Kastar sambil mengerutkan dahi tanda sedih sekaligus heran.
Jadi ini bukan menjelek-jelekan agama tertentu tapi membuka kasunyatan supaya bangsa ini, rakyat ini generasi masa kini mengenal adat dan budaya serta peninggalan leluhurnya karena pernah mengalami masa kejayaan kesatuan yang kuat yakni masa Majapahit, sebelum mengenal lebih luas sejarah dan leluhur bangsa lain (Arab, Israel, Roma, India, Vatikan, Inggris yang mana bangsa ini berkiblat kesana karena agama) yang masukpun dibawa oleh pedagang hingga menjajah. Pahamkah saudara-saudara...Jadi bukan tendensius. Andaikan semua berfikiran demi kejayaan kembali untuk Nusantara karena Indonesia sudah menjadi Arab. Dan seakan-akan ajaran dari arab saja yang benar dan paling benar dengan membenarkan diri menurut mereka yang fanatik tapi tidak tahu kefanatikannya hanya bersembunyi diketiak Tuhan/God/Alloh. (nsis)
Post under
Umum
di
08.23
Diposting oleh
News abad-21
Menuju Nusantara Jaya ( Maju, Mandiri dan Kreatif )
DAJJAL (memakai riwayat dari Islam karena lebih ditakuti) Makna Dajjal adalah banyak berdusta dan menipu. Seperti mengajak berbuat kerusuhan, main hakin sendiri, memprovokasi tapi pengecut lari duluan bila sudah kisruh, membuat massa menjadi goblok, kemplo, kempuel dan bodoh seakan-akan dengan teriak Takbir terus merusak itu dilindungi Alloh..Allah atau Tuhan dan lain-lain banyak terjadi peristiwanya...semoga anda tidak salah satunya dari dajjal atas nama Arab dan Islam yang menyebut bahasa Allah...atau Alloh. Siapa pun yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka dia adalah Dajjal. Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka. Beliau menjelaskan hal ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’; terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan keimanannya).”
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat. Para dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Dajjal. Dan bila disebutkan Dajjal secara mutlak (tanpa keterangan tambahan, red.) maka tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dajjal sebagai Tanda Hari Kiamat
Munculnya Dajjal merupakan salah satu tanda hari kiamat kubra (tanda-tanda yang besar). Artinya, tanda-tanda yang muncul mendekati hari kiamat dan bukan tanda yang biasa terjadi. Seperti munculnya Dajjal, turunnya ‘Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya matahari dari sebelah barat. (Lihat At-Tadzkirah karya Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu hal. 264, Fathul Bari 13/485, dan Ikmal Mu’allim Syarah Shahih Muslim, 1/70)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan akan munculnya Dajjal di dalam banyak hadits. Di antaranya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 5228) dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah tentang Dajjal pada pagi hari dan beliau mengangkat dan merendahkan suaranya seakan-akan kami menyangka dia (Dajjal) berada di sebagian pohon korma. Lalu kami berpaling dari sisi Rasulullah. Kemudian kami kembali kepada beliau dan beliau mengetahui hal ini, lalu beliau berkata: ‘Ada apa dengan kalian?’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajjal pada pagi hari dan engkau mengangkat serta merendahkan suara, sehingga kami menyangka bahwa dia berada di antara pepohonan korma.’ Rasulullah lantas bersabda: ‘Bukan Dajjal yang aku khawatirkan atas kalian. Dan jika dia keluar dan aku berada di tengah kalian maka akulah yang akan menyelesaikan urusannya. Dan jika dia keluar dan aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang menyelesaikan urusannya masing-masing”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan (no. 4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu Suraihah radhiyallahu ‘anhu:
“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami berbincang tentang hari kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul sepuluh tanda; yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, munculnya Dajjal, munculnya asap, keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam, dan tiga khusuf (terbenam ke dalam bumi), satu di timur, satu di barat dan satu di Jazirah Arab, dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat mahsyar’.”
Berita tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun,
Sifat-sifat dan Bentuk Fisiknya
1. Seorang pemuda yang berambut keriting dan kusut masai.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting rambutnya, hilang cahaya matanya, seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim: 2937)
“Nanti akan ada pendusta yang menyesatkan, rambut di belakangnya hubukun (keriting seperti terjalin/dipintal) –beliau ucapkan tiga kali–. Dia akan berkata: ‘Aku adalah Rabb kalian’. Barangsiapa yang berkata: ‘Engkau bukan Rabb kami. Rabb kami adalah Allah, kepada-Nyalah kami bertawakal dan kepada-Nyalah kami kembali. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatanmu’, niscaya Dajjal tak mampu mengalahkannya.” (Ash-Shahihah no. 2808)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini merupakan dalil yang tegas bahwa Dajjal akbar (terbesar) adalah manusia yang punya kepala dan rambut. Bukan sesuatu yang maknawi atau kiasan dari kerusakan, sebagaimana ucapan orang-orang yang lemah imannya….” (Silsilah Ahadits Shahihah, 6/2, pada penjelasan hadits no. 2808)
2. Matanya
Dia adalah seorang yang buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah demikian. Masalah ini diriwayatkan dalam hadits yang mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat. Di antaranya:
Rasulullah berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim no. 2930)
- Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka, aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Dajjal matanya buta sebelah, kulitnya putih.” (Dalam satu riwayat): “Kulitnya putih seperti keledai putih. Kepalanya kecil dan banyak gerak, mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika ada orang-orang yang binasa (mengikuti fitnahnya), ketahuilah Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Muslim, Ash-Shahihah, no. 1193)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini menunjukkan Dajjal akbar adalah manusia yang mempunyai sifat seperti manusia. Apalagi Rasulullah menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan, seorang shahabat. Hadits ini satu dari sekian banyak dalil yang membatilkan takwil sebagian orang yang menyatakan Dajjal bukanlah sosok fisik, tapi rumuz (simbol) kemajuan Eropa berikut kemegahan serta fitnahnya. (Yang haq) Dajjal adalah manusia, fitnahnya lebih besar dari fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)
3.Tulisan di antara Kedua Matanya
Tertulis di antara kedua matanya ك ف ر yang bisa dibaca oleh mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Dia buta, pendusta. Ketahuilah dia buta, adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal :ك ف ر -yakni: kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2933)
Dari ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari rahimahullah, beliau mendapatkan berita dari sebagian shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata memperingatkan manusia dari Dajjal:
“Sesungguhnya tertulis di antara dua matanya ك ف ر, akan bisa membacanya orang yang membenci amalannya -atau akan membacanya semua mukmin.” (HR. Muslim)
Dalam satu riwayat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu:
“Akan bisa membacanya semua mukmin yang bisa menulis ataupun tidak.” (HR. Muslim, 2934/105)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Yang benar dan ini adalah ucapan para ulama muhaqqiqin: Tulisan (yang ada di antara kedua mata Dajjal, -pen.) adalah hakiki adanya sesuai dzahirnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai tanda di antara sekian tanda kekufuran, kedustaan, dan kebatilannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kepada seluruh mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sembunyikan (tanda tersebut) dari orang yang diinginkan kesesatannya dan terkena fitnahnya.” (Syarh Muslim, 9/294)
Pengikut Dajjal
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Akan mengikuti Dajjal dari kaum Yahudi Ashbahan (sebuah kota di Iran) 70.000 orang, (tanda) mereka memakai thayalisah (sejenis kain yang dipakai di pundak).” (HR. Muslim no. 2944)
Pengikut Dajjal adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang jahat. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah masuk ke kamarku dalam keadaan aku sedang menangis. Beliau berkata kepadaku: ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Aku menjawab: ‘Saya mengingat perkara Dajjal maka aku pun menangis.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jika dia keluar sedang aku masih berada di antara kalian niscaya aku akan mencukupi (melindungi) kalian. Jika dia keluar setelah aku mati maka ketahuilah Rabb kalian tidak buta sebelah. Dajjal keluar bersama orang-orang Yahudi Ashbahan hingga datang ke Madinah dan berhenti di salah satu sudut Madinah. Madinah ketika itu memiliki tujuh pintu, setiap celahnya ada dua malaikat yang berjaga. Maka keluarlah orang-orang jahat dari Madinah mendatangi Dajjal ….” (HR. Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih)
Dalam sebuah hadits disebutkan juga bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah pasukan Khawarij.
“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur`an tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Setiap kali keluar sekelompok mereka, maka akan tertumpas sehingga muncul Dajjal di tengah-tengah mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 174, lihat Ash-Shahihah no. 2455)
Macam-macam Fitnahnya
Fitnah yang dilakukan Dajjal banyak sekali, di antaranya:
1. Bersamanya ada surganya dan nerakanya.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Dajjal cacat matanya yang kiri1, keriting rambutnya, bersamanya surga dan nerakanya. Nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim, no. 2934)
2. Membunuh satu jiwa kemudian menghidupkannya kembali.
“Keluarlah pada hari itu seorang yang terbaik atau di antara orang terbaik. Dia berkata: ‘Aku bersaksi engkau adalah Dajjal yang telah disampaikan kepada kami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Apa pendapat kalian jika aku bunuh dia dan aku hidupkan kembali apakah kalian masih ragu kepadaku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Maka Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali….” (HR. Muslim no. 2938)
3. Menggergaji seseorang kemudian membangkitkannya kembali. (HR. Muslim, 2938/113)
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Sai’d Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (no. 2938) berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal pada suatu hari. Di antara apa yang beliau sampaikan adalah: “Dajjal datang dan dia diharamkan untuk masuk ke kota Madinah, maka dia berakhir di daerah yang tanahnya bergaram yang berada di sekitar Madinah. Maka keluarlah kepadanya seorang yang paling baik dan dia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah.’ Lalu Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini kemudian menghidupkannya, apakah kalian masih tetap ragu tentang urusanku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Dia pun membunuhnya kemudian menghidupkannya. Orang yang baik itu berkata setelah dihidupkan: ‘Demi Allah, aku semakin yakin tentang dirimu.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu Dajjal ingin membunuhnya lagi namun dia tidak sanggup melakukannya’.”
4. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turunlah hujan.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“…Dia datang kepada satu kaum mendakwahi mereka. Merekapun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman….” (HR. Muslim no. 2937)
Adapun kaum yang tidak beriman dan tidak menerima dakwah Dajjal, tidak ada sedikit harta pun tersisa pada mereka.
5. Akan diikuti perbendaharaan harta.
Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“…Dia mendatangi reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharaanmu.’ Maka keluarlah perbendaharaannya mengikuti Dajjal seperti sekelompok lebah.” (HR. Muslim no. 2937)
6. Bersamanya air, sungai, dan gunung roti, api, dan air.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“…Sesungguhnya bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surganya Dajjal adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: sanadnya shahih. Lihat Qishshatu Masihid Dajjal)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang Dajjal:
“Sungguh Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat manusia air sebenarnya adalah api yang membakar. Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya adalah air minum dingin yang segar. Barangsiapa di antara kalian yang mendapatinya hendaknya memilih yang dilihatnya api, karena itu adalah air segar yang baik.” (HR. Muslim no. 2935)
Dajjal adalah dari Bani Adam, Bukan Lambang Kejahatan dan Kerusakan
Termasuk benarnya keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yaitu mengimani bahwa Dajjal adalah dari Bani Adam, dan bukan sebuah lambang kejahatan dan lambang khurafat, seperti yang telah dikatakan oleh Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya Al-Manar (3/317), lalu diikuti oleh Abu ‘Ubayyah yang mengatakan bahwa Dajjal adalah sebuah lambang dari kejahatan dan bukan salah seorang Bani Adam. (Asyrathus Sa’ah, hal. 316)
Penakwilan ini termasuk sikap memalingkan makna lahiriah (tekstual) nash-nash.
Asal Dajjal dari Bani Adam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Dari penjelasan nash tersebut tidaklah masuk akal bila dimaknakan kepada sebuah lambang. Coba perhatikan hadits di bawah ini yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (no. 6484) dan Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 246) dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang menonjol.” Ibnu ‘Umar berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari Bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit sawo matang dari Bani Adam, rambutnya tersisir di antara kedua pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Al-Masih bin Maryam.’ Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di atas pundak dua laki-laki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Al-Masih Ad-Dajjal’.”
Kenapa Tidak Disebutkan Dajjal Di dalam Al-Qur`an dengan Jelas Sebagaimana dalam Hadits-hadits?
Mungkin orang-orang akan bertanya kenapa tidak disebutkan di dalam Al-Qur`an dengan jelas tentang Dajjal sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits? Padahal perkara Dajjal tidaklah jauh lebih besar dari perkara Ya’juj dan Ma’juj, sementara urusan Ya’juj dan Ma’juj disebutkan di dalam Al-Qur`an?
Telah disebutkan alasannya oleh para ulama dalam banyak pendapat. Di antaranya:
1. Penyebutan Dajjal di dalam Al-Qur`an termasuk dalam kandungan ayat:
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Rabbmu atau kedatangan beberapa ayat Rabbmu. Pada hari datangnya ayat dari Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)
Yang dimaksud dengan ‘tanda-tanda Rabbmu’ dalam ayat ini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari sebelah barat, dan munculnya daabbah (binatang). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam sebuah sabdanya:
“Tiga hal apabila telah muncul (terjadi) maka tiada bermanfaat lagi sebuah keimanan bagi seorang jiwa yang belum beriman (sebelumnya): Dajjal, daabbah, dan terbitnya matahari dari arah barat.”
2. Al-Qur`an menyebutkan akan turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan dialah yang akan membunuh Dajjal. Maka dengan menyebutkan Masihil Huda (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam) sudah cukup dari penyebutan Masihidh Dhalal (Dajjal). Dan kebiasaan orang Arab adalah mencukupkan diri dengan menyebutkan salah satu yang berlawanan.
3. Bahwa munculnya Dajjal disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Mu`min: 57)
Yang dimaksud kata “manusia” di dalam ayat ini adalah Dajjal. Dalam istilah kaidah bahasa termasuk dalam bab penyebutan secara umum sedangkan yang dimaksud adalah khusus, yaitu Dajjal. Abu ‘Aliyah berkata: “Artinya lebih besar dari penciptaan Dajjal yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi.” (Tafsir Al-Qurthubi, 15/325)
Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini, kalau memang benar, adalah sebaik-baik jawaban. Dan ini termasuk perkara-perkara yang ditugaskan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan. Dan ilmunya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Fathul Bari, 13/92)
4. Al-Qur`an tidak menyebutkan Dajjal sebagai bentuk penghinaan terhadapnya. Di mana dia menobatkan dirinya sebagai Tuhan, padahal dia adalah manusia. Tentu sikapnya ini menafikan kemahaagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemahasempurnaan-Nya serta kesucian-Nya dari sifat-sifat kekurangan. Oleh karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sangat hina dan kecil untuk disebutkan.
Jika demikian, mengapa tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan disebutkan di dalam Al-Qur`an? Jawabannya adalah: “Perkara Fir’aun telah selesai dan habis masanya, dan disebutkan sebagai peringatan bagi manusia. Adapun urusan Dajjal, akan muncul di akhir zaman sebagai ujian bagi manusia.”
Dan terkadang, sesuatu itu tidak disebutkan karena jelas dan nyata perkaranya.
Inilah beberapa pendapat dari jawaban dan alasan ulama tentang mengapa tidak disebutkan permasalahan Dajjal di dalam Al-Qur`an. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar bila muncul, karenanya Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan: “Pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal di dalam Al-Qur`an akan terus muncul. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkara Ya`juj dan Ma`juj, sementara fitnah mereka sama dengan fitnahnya Dajjal.” (Fathul Bari, 13/91-92)
Pengarang kitab Asyrathus Sa’ah menguatkan pendapat yang pertama yaitu Dajjal telah disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagaimana kandungan ayat dalam surat Al-An’am di atas secara global, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diamanatkan untuk menjelaskannya (secara rinci). (Asyrathus Sa’ah, hal. 333)
Kiat-Kiat Terhindar dari Fitnah Dajjal
Sebagaimana dalam pembahasan di atas sangat jelas bahwa fitnah Dajjal amat sangat berat dan besar sehingga tidaklah heran jika Dajjal memiliki banyak pengikut. Dan pengikut Dajjal yang terbanyak adalah dari kalangan Yahudi, orang ajam (orang-orang non Arab), bangsa Turki, orang-orang A’rabi (orang Badui yang dikuasai kejahilan), dan kaum wanita. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sabda beliau:
“Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris.” (HR. Muslim no. 5237 dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)
Dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullahu no. 11290 disebutkan: “70.000 dari mereka memakai mahkota.”
Begitu juga dari kaum ‘ajam, telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al-Bukhari (no. 3323) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Adapun bangsa Turki disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu: “Yang nampak, wallahu ‘alam, yang dimaksud dengan orang-orang Turki adalah para pembela Dajjal.” (An-Nihayah 1/117)
Tentang keadaan orang-orang Badui sebagai pengikut Dajjal terbanyak disebabkan kejahilan menguasai mereka, sebagaimana dalam riwayat Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu.
Adapun kebanyakan pengikut mereka dari kaum wanita karena keadaan mereka lebih jelek dari kaum Badui, karena cepatnya mereka terpengaruh dan mereka dikuasai kejahilan, sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir rahimahullahu.
Kalaulah demikian besar fitnahnya dan banyak yang mengikutinya, maka sudah barang tentu kita harus berusaha menyelamatkan diri dari fitnahnya. Dan inilah beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari fitnah-fitnah Dajjal.
Pertama: Berpegang teguh dengan Islam dan bersenjatakan iman serta mengetahui nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang tidak ada seorangpun menyamai-Nya dalam masalah ini. Diketahui bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum, dan Maha Suci Allah dari hal itu. Dajjal buta sebelah sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak demikian. Dan tidak ada seorang pun bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai mati, sementara Dajjal dilihat ketika keluarnya baik oleh orang-orang kafir atau mukmin.
Kedua: Berlindung dari fitnah Dajjal, terlebih ketika shalat sebagaimana yang banyak diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga: Membaca sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi baik awal ataupun akhirnya di hadapan Dajjal, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keempat: Lari dari Dajjal dan mencari tempat perlindungan, seperti kota Makkah dan Madinah. Karena keduanya adalah tempat yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam kitab Shahih Al-Jami’us Shagir (5/303 no. 6177).
Wallahu alam...dipakai untuk yang merasa dan bahasa dan sejarah dari ajaran Arab kalau bangsa ini sudah mengarab maka ini artikel yang tepat untuk waspada musuh dalam selimut sendiri.
Post under
Umum
di
01.54
Diposting oleh
News abad-21
Suatu kejadian peristiwa yang terjadi di Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit yang akhirnya dikenal sebagai kawitan Pusat leluhur Majapahit yang adat dan budayanya lestari di Bali (BIARPUN DIKLAIM HINDU YANG MUNCUL DAN BARU DI SAHKAN TAHUN 1961 ini terbukti didalam lontar-lontar serta kitab-kitab masa Majapahit dan sebelumnya tidak ditemukannya istilah Hindu ataupun yang berbau Hindu India) jadi oleh para sentananya baik yang masih memegang adat dan budaya leluhur sesuai dengan bunyi lontar "SIRA MPU KUTURAN INGARAN MPU RAJAKRETHA MAHYUNTA ANGGAWE PARAHYANGAN SANE KAGAWA WIT MAJAPAHIT KAUNGGAHAN RING BALI KABEH" Jadi untuk adat Majapahit dan pemahaman tentang adat dan budaya Majapahit bisa dilihat di Bali prakteknya dan masyarakat Jawa yang keJawan atau Kejawen yang melaksanakan adat-adat dan mempraktekan budaya Majapahit (didalam kitab Negarakertagama belum dikenal istilah Hindu yang baru diberi label/titel agama pada tahun 1961 tapi Majapahit Kasyaiwan dan Kasogatan atau dikenal Siwa Buda ritual keleluhur) tetapi untuk lebih mendetail penjelasan dari PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT TROWULAN di Pura Majapahit Trowulan utara Kolam segaran Jl. Brawijaya Dara Jingga 13-16 tembus Sabda Palon no 06 yang memberikan kasunyatan pada kawula diseluruh Nusantara terutama kawula di Trowulan, bahwa PURA MAJAPAHIT TROWULAN itu melestarikan adat dan budaya leluhur Majapahit bukan agama yang dimport semua. Bahkan untuk di Trowulan sebagian besar masyarakatnya tidak mengerti dan menghargai adat dan budaya leluhur Majapahit. Seperti kasus di desa Temon hanya karena provokasi sang ketua yang mengerti adat dan budaya akhirnya membawa massa menjadi bodoh (Jahilliyah) dan masyarakat Trowulan tidak mengerti dengan filosofi budaya leluhur bahkan PURA MAJAPAHIT TROWULAN di larang berkegiatan dan ritual dalam bentuk apapun berdasarkan SKB dan perda kabupaten Mojokerto tanpa alasan yang jelas dan tidak berdasar aneh tapi nyata.
Ketakutan para Dajjal kembalinya jati diri bangsa Nusantara. Untuk itu sentana (keturunan Majapahit di Trowulan), ingin memberikan penjelasan tentang ini dan siap untuk membuka mata hati dan mata batin bagi yang tidak kenal budaya Majapahit (Kejawen) dan kawula di Trowulan yang ingin tahu tentang adat dan budaya Majapahit.
Adalah Raden Hari Susanto, Raden Rahmat Arif Safi`i(Arik), Raden Khusaini, Raden Jawahir(Ketju) , Raden Ayu Siti(Nyonya Ghofir), RM.Atarif(Umbar) yang sangat getol ingin memberikan pengetahuan ini supaya sebagian masyarakat Trowulan dan sekitarnya paham dan mengerti budaya dan filosofinya di Pura Majapahit Pusat Trowulan supaya tidak antipati dengan budayanya sendiri yang bukan import sehingga paham budaya sendiri dan tidak "ngepruki" peninggalan leluhurnya
PATUNG ITU FOTO LELUHUR, pada masa Majapahit dahulu foto itu belum ada. Mr. Kodak belum lahir mister Handycam belum muncul. Jadi untuk mengabadikan leluhur maka dibuatlah foto yang terbuat dari batu yang dipahat berbentuk manusia yang disebut patung, juga dari tanah liat dan keramik yang cara pembuatan ilmunya dari Cina karena memang leluhur Majapahit itu memang manusia dan ini terbukti masyarakat Trowulan pada umumnya adalah pematung yang handal. Dan bukti lagi untuk sebagian orang Islam di Trowulan sangat tidak tahu dengan Patung atau Arca yang dipakai sentana (keturunan Majapahit) adalah Pratima atau patung peninggalan leluhur, bahkan ada yang menganggap patung itu berhala atau musyrik, padahal patung itu adalah foto leluhur pada jaman itu karena foto belum ditemukan.
Sebenarnya tidak ada pebedaan antara Islam yang dianut sebagian masyarakat di Trowulan dengan adat budaya Majapahit (Kejawen). Kalau orang Islam di Trowulan meninggal otomatis dibuatkan makam dan diberi tanda berupa batu nisan (maesan atau patok kuburan), dan setiap hari jum`at legi disekar dengan kembang yang di adat Arab memang tidak mengenal budaya "nyekar". Jadi budaya nyekar adalah budaya asli Majapahit seperti yang dilakukan oleh Nurhidayati cucunya Mbah Ali yang berbakti pada leluhurnya pada setiap Jum`at legi selalu nyekar ke makam leluhurnya dan ke makam Troloyo, juga semua memakai budaya Kejawen. Makanya apabila ada orang Islam yang nyekar kekuburan disebut Islam Majapahit atau Islam kejawen maksudnya adalah orang Islam yang masih memakai adat Majapahit atau Kejawen adat asli yang tidak diimport, kenapa anti dengan Majapahit atau Pura Majapahit pimpinan Hyang Suryo seperti Karyono CS ?????. Juga adat lainnya seperti Tingkepan, bayi mudun lemah, ruwatan, metik pari nang sawah karena memakai cok bakal dan lain-lain yang dulu masih banyak disaksikan sekarang hampir atau sudah musnah karena sudah berganti dengan adat Arab yang tidak kenal Tingkepan, nyekar dan cok bakal serta lainnya. Itulah pemahaman ajaran Arab memberangus adat kejawen padahal sebagian masyrakat Trowulan masih memakai adat tersebut, ini realita nyata dan kasunyatan.
Dan apabila untuk keturunan Majapahit leluhurnya meninggal itu dibakar atau diaben atau dikremasi atau dimokswakan akhirnya abunya dilarung ke Luat atau ke Sungai dan rohnya dibuatkan Kuburan atau rumah yang disebut Candi dan diberi "tetenger" atau tanda berupa patung atau foto yang juga direliefkan (hiasan dinding Candi). Jadi Candi adalah minangka tempat atau makam leluhur yang pada hari Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, nyekar leluhurnya adalah ke Candi .Contoh Pura Majapahit Trowulan adalah tempat leluhur Majapahit di Candikan jadi tidak ada hubungannya dengan agama.
Inilah sedikit penjelasan dari kami tentang Pura Majapahit Trowulan dan kegiatannya tidak ada yang dirahasiakan. Untuk dipahami bagi yang tidak mengenal budaya Majapahit dan dilestarikan untuk generasi Nusantara sebagai jati diri bangsa terlihat dari luhurnya "tingginya" budaya bangsa itu sendiri. (R.Sisworo Gautama)
Post under
Umum
di
01.04
Diposting oleh
News abad-21
Malam itu tidaklah begitu dingin (Soma Paing Kulawu 8-02-2010), udara berhembus sepoi-sepoi menerpa wajah seakan-akan membelai menina-bobokan yang masih sadar dengan keadaan, angin itu juga ingin menyampaikan satu informasi yang aneh namun sungguh nyata. Di Pura Ibu Majapahit setelah tiga hari kedatangan Guruh Sukarno Putra, calon pemimpin Negeri masa depan yang berideologi Pancasila adalah bungsu salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia yakni Bung Karno yang berjuang bersama Pahlawan lainnya untuk mengangkat martabat bangsa ini hingga mempunyai jati-diri yang sekarang sudah mulai musnah karena pemaksaan isme yang diimport dan pemonopolian agama yang berkuasa memberi "cap" lainnya kafir dan sesat serta memberi julukan kaum musyrikin untuk mengimbangi kaum muslimin sesuai hukum alam. Hingga detik ini mereka masih memberi "titel sampul D" contohnya di daerah Blitar sendiri, tempat kelahiran Bung Karno banyak masyarakat dulu ditumpas karena tidak ke Mesjid dan tidak memeluk Islam dengan tuduhan Komunis atau PKI. (1965-1966 berlanjut hingga detik ini). Inilah sejarah kelam bangsa ini yang di Arabisasi dengan isme Islamnya. dan ini terbukti adat-adat dan budaya Nusantara yang berbau animisme dan dinamisme serta multiisme ditumpas karena untuk menguasai Negeri yang subur makmur. Dan sekarang para penumpas disebut Pahlawan Alloh.
Mata sudah mulai mengantuk, di Pendopo Puro / Keraton Ibu Mojopahit terlihat beberapa orang yang sibuk bercengkrama sambil berjaga (mekemit) yang memang menjadi tugasnya sebagai "Prajurit Keraton" serta "Abdi Dalem Keraton". Terdengar nyanyian alam berpadu dengan suara merdunya mahkluk Tuhan bernama Putih, Blontang, Iyeng dan lainnya yang mengonggong menemani para penjaga menunjukkan hubungan tanpa batas antar sesama mahkluk hidup.
Tiba-tiba dari arah pintu gerbang Ganesha terdengar sapa seseorang dengan salam yang aneh tapi sudah biasa didengar "OM SWASTYASTU". Para penjaga menjawab salam tersebut dan mempersilahkan masuk tamu yang berjumlah dua orang yang masih muda berusia sekitar 30-an tahun . Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya kedua orang itu duduk bersila didepan Candi Ibu Majapahit. Dengan dupa yang baru dinyalakan berdo`alah mereka dihadapan leluhur Majapahit. Entah berapa lama akhirnya selesailah ritual yang dijalaninya yakni menghaturkan bakti dihadapan leluhur. Selanjutnya terlihat mereka melangkah di depan Pagoda atau meru dan melakukan ritual yang sama hingga berakhir serta melanjutkan ke bawah Klenteng atau Gedong Pratima di mana Pusaka-pusaka Majapahit "dijejerkan".
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka kembali ke Pendopo dan menemui seseorang sekaligus bertanya," Kami mohon untuk "dilukat", kata mereka hampir berbarengan. Terdengar sahutan dari bibir seorang laki-laki yang berambut gondrong, gimbal dan berbadan kurus," Wah tiyang niki bukan orang yang bisa membersihkan diri seseorang, namun hanya membantu dan belajar melayani, seharusnya Anda sendirilah yang berinisiatif untuk melukat segala kekotoran diri", ujarnya sambil semyum simpul ramah. Dan tanpa banyak kata diambillah tirta ditempatkan dalam sangku dan dicampur kembang untuk prosesi acara mandi kembang. Terlihat kedua orang itu mengigil kedinginan dan merinding seperti merasakan sesuatu tatkala mantra terucap dari bibir yang sering dipanggil Panditha (mangku) tanpa diimpikan katanya, karena ini murni keinginan umat yang meresmikan menjadi Panditha. Apalagi orang tersebut mengaku tidak tahu apa-apa tapi sangat toleran dalam berkepribadian.
"Bolehkah saya bertanya", kata anak muda itu yang agak berkulit kuning langsat dengan ramahnya menandakan punya tata kerama yang lumayan, kontras dengan temannya yang berkulit gelap agak sedikit "slengekan".
Pemangku itu menjawab, "Silahkan !".
"Apakah orang dalam foto yang memegang keris Nogo Sosro itu adalah Hyang Suryo Wilatikta", begitu tanya anak muda itu langsung untuk mencari tahu dari rasa penasarannya.
Dengan sedikit menerapkan penerawangannya si Pemangku mengeryitkan dahinya untuk menganalisa keadaan yang sudah diprediksinya sekaligus mengantisipasi untuk apa orang ini bertanya seperti itu, karena seorang Ratu Satriyo Paningit itu tidak sembarang orang tahu. Karena Raja Majapahit Masa Kini ini sungguh sangat aneh, merakyat dan "TER", yakni TER Besar dan TER kecil.
"Dalam foto itu di samping yang memegang keris Nogo Sosro memakai udeng merah adalah "Kompyang atau buyut" saya", katanya lagi sambil berapi-api dan ingin jawaban yang pasti.
Si Pemangku balik bertanya biarpun sudah tahu akan tamunya ini," Siapa nama Andika ini !".
"Pekenalkan nama titiyang I Gusti Ngurah Agung Juliartawan saking Puri Anyar Tegal Badung Denpasar", jawabnya sambil memjabat seakan memohon untuk mendapat jawaban yang pasti.
"Mungkin Andika salah orang", jawab sipemangku dengan cepat. "Tidak salah titiyang pernah melihat Beliau sewaktu masih kecil, wajahnya masih sama dan beliau dulu mengendarai mobil pickup", cerocosnya untuk dapatkan kepastian.
Akhirnya karena ilmiahnya memang benar dan anak ini tidak membahayakan menurutnya maka si Pemangku inipun berkata,"Benar, itulah Hyang Brahmaraja XI Beliau sekarang sesuai tata-titi tata kerama seharusnya di panggil Hyang Wilatikta Brahmaraja XI bukan Hyang Suryo lagi. Saya ilmiahkan begini, nama kecil biasa dipanggil, tetapi aturan setelah di Abhiseka lain cara memanggilnya sesuai adat Majapahit yang adi luhung pada umumnya sudah banyak ditinggalkan karena sudah mengenal langsung Tuhan", jawabnya dengan sambil terus memandang mata anak muda itu seakan membaca pikirannya.
Akhirnya Mas Ngurah Agung bercerita panjang lebar tentang kompangnya yang juga kakek buyutnya. "Titiyang niki kan punya Haji atau Aji atau Bapak, nah Aji tiyang niki punya Aji yang disebut Kakek atau Pekak, Kakek niki punya Aji dan beliau sudah "meraga sukma" dan sampun dilinggihkan. Nah ini buyut tyang yang berfoto dengan Hyang Brahmaraja disebelah kanan Beliau", katanya memastikan.
Akhirnya terjawab sudah pertanyaan selama ini bahwa Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini hidup dalam empat generasi. Mengapa beliau berusia panjang dan sehat ?. Karena mengikuti Hukum Tuhan, Hormatilah kedua orang tuamu dan leluhurmu supaya diberi usia yang panjang dan sehat. Ini adalah Hukum Tuhan dalam "Tens Comandemen of God" yang diajarkan Musa AS dalam perjalanan Hidupnya. dan sebagian besar penduduk Cina dengan leluhurnya.
Pagi harinya setelah dikonfirmasi sama Hyang Brahmaraja XI memang benar adnya itu orang bernama Anak Agung Ngurah Sodara dan Beliau juga yang menyelamatkannya dari kudeta saudaranya sampai berdirinya Pura Majapahit Tegal yang pernah dicemarkan namanya oleh AA Manik Danendra S.H dalam berita di Bali Post 7-01-2010 yang sangat memalukan keluarga Puri Tegal dan Puri Anyar. Makanya si Ngurah Agung ini lama tidak pernah tangkil atau sowan ke Pura Tegal, dan Ngurah ini juga bercerita PELINGGIH yang terbakar dan pas odalan Banten diorat-arit sebelum dipuput, dan mungkin diselamatkan oleh leluhurnya supaya tidak terkontaminasi racun dari Manik Danendra ini yang mengaku Raja Pura Gunung Srawet Banyuwangi dengan menyingkirkan tuan rumahnya sekaligus menerapkan Adigang, Adigung lan Adiguna ()
Post under
Umum
di
22.20
Diposting oleh
News abad-21
Oleh W.R Soepratman
Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti, di sanalah aku berdiri njaga ibu sejati,
Indonesia tanah berseri, tanah yang yang aku sayangi,
marilah kita berjanji, Indonesia abadi,
slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya,
lautnya, semuanya,
majulah negerinya, majulah pandunya,
untuk Indonesia Raya,
Indonesia tanah yang mulia,
tanah kita yang kaya,
di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya,
Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya,
marilah kita mendoa, Indonesia bahagia,
suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya,
rakyatnya semuanya,
sadarlah hatinya, sadarlah budinya
untuk Indonesia Raya
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku,
di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku,
marilah kita berseru Indonesia bersatu,
hiduplah tanahku, hiduplah negeriku,
bangsaku, rakyatku semuanya,
bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,
untuk Indonesia Raya
Ref, Indonesia Raya, merdeka, merdeka,
tanahku negeriku yang kucinta,
Indonesia Raya, merdeka, merdeka,
hiduplah Indonesia Raya
Post under
Umum
di
04.04
Diposting oleh
News abad-21
Bila ingin mengetahui sejarah dan perkembangan Pura Ibu Majapahit ada baiknya mengetahui lebih mendetail yang akan tertuang dalam tatanan dan fungsi dari;
Bangunan Palinggih untuk yang menjaga Pura/Keraton sekaligus tempat ber-Stana Dang Hyang Penjaga Nusantara berada di bawah pohon asam/punyan celagi. Disinilah yang pertama kalinya pemedek/umat meminta ijin masuk secara Sekala-Niskala untuk dapat mulai memasuki Pura/Keraton Ibu Majapahit.
Setelah itu memasuki Pintu Gerbang yang bernama Candi Wijaya Kusuma disambut oleh Arca Ganesha yang beratnya melebihi ukurannya dan setelah ketemu Simbol Surya Majapahit ada tempat Tirta penglukatan awal/ Pembersihan diri bilamana diluar mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Nah dengan Tirta ini diharapkan diri menjadi bersih dari hal-hal yang tidak bagus.
Setelah berjalan beberapa langkah, terlihatlah Candi Siwa menjulang tinggi ke angkasa dan didepan Candi Ada tempat Tirta pembasuh dan disambut oleh Patih Gajah Mada yang masih muda menghunus keris memberikan semangat untuk generasi muda supaya mendapatkan kembali jiwa nasionalismenya dengan sebutan Bhayangkara Mada diatas prasasti KEBANGKITAN SIWA BUDHA yang ditanda-tangani oleh Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini dan Raja Majapahit Bali Masa Kini atau Sentana Anglurah Bali (cocok untuk berdo`a tokoh muda pejuang Negara dan yang ingin bersemangat melanjutkan hidup serta kehidupan).
Didepan Candi Siwa Inilah semua persembahan seperti banten dan Pejati dihaturkan kepada beliau. Didepan Candi Siwa ini Anda-Anda semua boleh menumpahkan uneg-uneg, meluapkan emosi kerauhan dan mengharapkan beliau tedun untuk mebaos atau memberi petunjuk dan berdo`a memohon kerahayuan. Setelah uneg-uneg dalam diri kosong, jiwa sudah tenang barulah kaki menapak memasuki Candi Budha atau memasuki Klenteng/Gedong Pratima/Gedong Kimsin yang berstana Ratu Majapahit Nusantara, dengan catatan mematuhi Peraturan yang terpampang di depan tangga sebelah kanan.
Gedong Pratima/Klenteng ini satu-satunya yang bisa dimasuki hanya untuk berdoa dan menancapkan hio/dupa dengan persembahan yang tidak mengandung nyawa atau vegetarian. Jadi didalam Gedong ini atau Klenteng hanya untuk berdo`a sampai jam 22.00 WITA (10 MALAM) kecuali Purnama dan Tilem serta Hari besar lainnya setelah itu Anda dipersilahkan turun. Filosofinya Anda akan mendapatkan pengetahuan berisi adalah kosong, Kosong adalah berisi. Jadi memasuki Klenteng kosongkan pemikiran Anda, Kosongkan supaya terisi nantinya. Untuk meditasi dan lain sebagainya silahkan dibawah ada tempat yang tersedia. Naik melalui tangga ibarat menjalani kebaikan perlu naik ketingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Turun disarankan ambillah tangga yang berbeda. Dibawah Klenteng terdapat Ruangan untuk menyimpan pusaka Majapahit atau museum dan untuk umum serta masuk Gratis lagi
Di Sebelah Gedong Pratima terdapat Bangunan Pelinggih menjulang tinggi dan tertinggi satu-satunya di Nusantara dan yang masih bisa diupacarai bernama Meru Tumpang sebelas atau Pagoda. Bangunan ini pernah diutarakan oleh Raja Banten melalui telepon supaya jangan sembarangan dimasuki. Padahal sang Raja ini belum tahu langsung atau datang ke Bali. Disini disimbolkan Pagoda diangkat oleh Kura-Kura, juga terdapat berstananya Dewa Bumi. Banyak filosofi yang bisa diambil berdo`a dan berfilosofi cerdas untuk mengejar ketinggalan Globalisasi.
Disebelah Pagoda terdapat bangunan segi delapan bernama Candi Avalokitesvara dan disebelah Candi Ciwa (Candi Majapahit) terdapat Candi Ibu Gayatri yang dalam kitab Negara Kerthagama baru sedang dibangun. Dan Candi Gayatri terdapat didaerah Tulung-Agung Jawa Timur masuk kawasan Keraton Majapahit Jenggala, tetapi keadaannya sudah parah dirusak oleh Santri Demak pimpinan R.Patah dan Sunan-sunan. Sehingga Candi ini di Pindahkan ke dalam Keraton Ibu Majapahit Bali.
Bangunan berbentuk Pendopo ini dalam bahasa Nagarinya disebut AN tempat berkumpulnya para ksatrya Majapahit disamping itu juga nyejerang Pusaka-Pusaka Majapahit. Disini aktivitas sangat ramai, ada yang berkonsultasi masalah sepritual, bisnis, meditasi, ramal-meramal, ruwatan, semua aktivitas tanpa batas disini. Juga terdapat Tempat menginap orang-orang suci atau tamu Agung bernama KWAN dibelakang Pagoda atau meru tumpang sebelas. Dan Pusat Informasi (TING) tentang perjuangan dari Hyang Batara Agung Sri Wilatikta Brahmaraja XI, Narendra Utama berjuang untuk Nusantara. Ada juga bale gong dan Kulkul. Ini adalah kebanggaan dan ciri khas Majapahit, Kawula semuanya terangkat harkat dan martabat serta punya jadi diri sebagai bangsa. Dan semua umat tanpa melihat SARA berhak datang dan berdo`a di kawitan Nusantara. Didepan leluhur semua sama tanpa melihat status (kasta) dan wangsa (keturunan) dan agamanya yang masih import semua serta.berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Atau disebut PURA PANCASILA. Inilah Gambaran Candi Siwa Budha Majapahit pemersatu. Untuk Kawitan Purusha Jawa Bali Stananya Prabu Airlangga (Raka Halu Sri Lokesvara Darmawangsa Airlangga Nanta Wikrama Tungga Dewa) terdapat di PURA MAJAPAHIT GWK masuk desa Ungasan (+/- 2 km dari Pura Ibu Majapahit) wilayah Kuta Selatan Kabupaten Badung Propinsi Bali.
Pintu Gerbang Ganesha adalah untuk mendapatkan kepandaian. Jadi tidak lagi “di Sirna Ilangkan di Kertaning Bumi”. Selanjutnya ada juga bangunan khusus membuang penyakit.
Itulah sedikit gambaran tentang Keraton Ibu Majapahit dan perkembangannya diabad-21 MASA KINI